Home » , , » Ruang Galau yang Mencekam

Ruang Galau yang Mencekam

Written By Salman binustech on Kamis, 03 Februari 2011 | 04.00

12967262041300628791

Ruang itu hanya disinari lampu temaram. Lampu yang biasanya bersinar terang tiba-tiba redup, menjadi temaram saja. Benda-benda yang mengelilinginya membisu. Teks-teks penyemangat dalam buku tiba-tiba mati, tak berfungsi. Buku yang tadinya terbuka kini menutup sendiri.

Perempuan itu tidur meringkuk di pojok lantai, beralaskan karpet ketidakberdayaan. Ia tempelkan kepalanya di bantal kelemahan. Ia peluk erat guling keputusasaan. Tubuhnya menggigil meradang, gemerutuk giginya menahan demam tinggi. Ia tak bisa memejamkan mata. Ia sedang bercinta dengan kecamuk, bercumbu dengan gundah.

Ia biarkan telinganya menangkap suara dar der dor peluru yang dimuntahkan di luar sana, gemuruh bummm bom diledakkan di luar sana. Ia tutup telinganya dengan kedua telapak tangannya, namun suara-suara itu telah menguasainya, mencekamnya. Ia sedang kehilangan keseimbangan dalam kesadarannya.

Kondisinya sedang lemah, sehingga ketika gempuran datang bertubi-tubi secara bersamaan menyerangnya, ia mudah terpukul dan terjerembab di ruang galau yang mencekam. Guling keputusasaan yang dipeluk erat itu semakin menambah kelemahannya. Semakin dipeluk semakin melemahkannya. Ia rasakan terbunuh perlahan-lahan. Ia dibunuh kesedihan. Ia mati bersimbah darah kesedihan. Sang penggempur tertawa dan bersorak-sorai kegirangan di luar sana.

Perempuan itu menggeliat, susah-payah merangkak ke arah pojok ruangan, mencoba meraih tongkat kesadaran yang teronggok di situ. Dengan tongkat kesadaran, ia berusaha bangkit, berdiri, berjalan sempoyongan. Kegalauan terlalu kuat mencengkeramnya, hingga tongkat kesadaran lepas lagi dari genggamannya. Perempuan yang mendadak buta itu menggapai-gapai dalam kegelapan, meraba-raba sekitarnya, mencoba mencari dimana tongkat kesadaran itu terjatuh. Ia menemukannya, pelan-pelan matanya terlepas dari kebutaan sesaat, namun pandangannya masih kabur, seperti pijar lampu temaram itu.

Dalam kekaburan, dan tongkat kesadaran yang merapuh, ia berjalan tertatih-tatih ke arah pintu. Ia membuka pintu, meninggalkan ruang galau yang mencekam, menuju ruang gembira yang membebaskan.


View the original article here

Share this article :

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

Blog Archive

Followers

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Lalu Lintas Berita - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger